Tuesday, March 12, 2013

Pengentasan Ekonomi ala Kh. Hasyim Asy'ari

By : ANWAR MOHAMMAD

Isu tentang kesejahteraan masyarakat dari zaman penjajahan sampai sekarang tidak pernah hilang. Runtuhnya salah satu kekuatan besar paham ekonomi, komunisme menjadi batu loncatan bagi musuhnya, kapitalisme untuk berkiprah dalam kompetisi bebas. Batas-batas dan kuasa pemerintah tidak dapat membendung kekuatan liberalisme pasar. Akibatnya, rakyat kecil menjadi korban keserakahan mereka.Tragedi tersebut sudah sangat terasa sejak kolonial Belanda mempekerjakan paksa penduduk pribumi bangsa ini. Mereka dipaksa menjual tanahnya dengan harga murah dan dipekerjakan dengan upah yang sangat kecil. Peristiwa ini membuat saya teringat dengan perjuangan seorang Kyai kampung yang bersemangat menegakkan ajaran Islam. KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang Kyai yang memilih berdakwah di daerah yang dimana penduduknya sering melakukan kemaksiatan. Berjudi, minum minuman keras dan main wanita adalah pekerjaan mereka sebagai pelarian akibat tekanan ekonomi. Dengan pekerjaan sebagai buruh di bawah budak kolonial, hidup mereka terus terjerat hutang dan kesengsaraan ekonomi.

Dengan mendirikan pesantren, KH. Hasyim Asyari mencoba berdakwah kepada kaum buruh dan memberi solusi atas himpitan ekonomi yang menerpa mereka. Di pesantren, beliau tidak hanya mengajarkan tentang agama. Tapi juga memberi wawasan pada santrinya tentang bagaimana berwira usaha dan bercocok tanam. Dengan begitu para santri tidak hanya menjadapatkan ilmu dan menjauh dari kemaksiatan, tapi mereka dapat keluar dari keserakahan kapitalisme liberal. Setelah sekian tahun berjalan, bersama KH Wahab Chasbullah dan sejumlah kyai dan saudagar santri lainnya lalu mendirikan Nahdlatut Tujjar pada tahun 1918, sebuah organisasi yang menghimpun kyai dan saudagar Muslim untuk mendobrak ketimpangan ekonomi masyarakat akibat sistem ekonomi liberalisme yang diterapkan kolonialisme Belanda.

Dari apa yang dilakukan KH Hasyim Asy'ari, tercermin manhaj berfikir Ahlisunnah wal Jamaah, khususnya mengenai iqtishadiyyah (perekonomian) bahwa menurut visi al-Qur’an, ayat ke-7 Surat al-Hasyr, “apa saja harta rampasan yang diberikan Allah pada rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota, maka adalah untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan”. Ini dapat diartikan harta harus tidak hanya beredar pada kalangan orang-orang kaya saja. Itu menunjukkan paradikma perekonomian dalam perspektif Aswaja tidak seperti kapitalis, yang memberikan kebebasan dan hak pemilikan tak terbatas pada setiap individu. Dan juga tidak relevan dengan paradigma komunisme, yang ingin merampas semua hak individu dan hanya dikendalikan Negara.

Jadi, kita dapat melihat begitu pentingnya peran pesantren dalam dunia masyarakat miskin dan terjerembak dalam kemaksiatan. Pesantren tebu ireng yang didirikan oleh beliau mampu mengangkat derajat ekonomi masyarakat dan menjadi jembatan menuju kesejahteraan rakyat. Pesantren itu juga mengukuhkan bahwa Islam tidak hanya terbatas pada ibadah (mahdlah), suatu peribadatan yang bersifat formalistik saja. Namun Islam juga mengatur aspek mu’amalah (hubungan antar sesama manusia). Dan sudah sepatutnya, kita sebagai next generation Hasyim A. juga bisa mengaktualisasikan nilai-nilai aswaja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jakarta Bisa "Mati Suri" peringati Nyepi

Seandainya Jokowi mengintruksikan semua warga Jakarta memperingati hari raya nyepi, pasti sangat menarik, Jakarta dalam satu hari berubah menjadi kota mati. Mobilitas ekonomi ter-pause- sejenak, motor-motor istirahat di rumah masing-masing mendinginkan mesin, orang-orang tidak berlalu lalang, jalan-jalan besar Jakarta tak lagi menahan lindasan ban-ban mengikuti tujuan tuannya. Suara bising klakson akibat kemacetan tak terdengar sementara, begitu juga ego dan emosi manusia yang mau menang sendiri. Jakarta akan menghirup nafas sedalam-dalamnya menikmati keheningan. Ini akan jadi semacam terapi bagi Ibu Kota dan warganya.

Sayang, kehiningan seperti ini hanya bisa dilihat di Kute Bali, karena mayoritas penduduknyaberagama Hindu. Agama yang dimulai dari peradaban lembah sungai Shindu ini, mempercayai bahwa dengan menyepi kita bisa melihat diri, bercermin, intropeksi total terhadap diri. Serta menilai pelaksanaan trikaya (kayika = perbuatan, wacika = perkataan, manacika = pikiran) di masa lampau, kemudian merencanakan trikaya parisudha (trikaya yang suci) di masa depan. Hanya dengan Catur Brata di atas, usaha ini bisa dilakukan.

Kalau intinya ada di Intropeksi diri, saya kira semua agama menganjurkan bahkan mewajibkan hal itu. Jadi manusia Indonesia, khusunya mereka para pemimpin bisa ikut memperingati dengan melakukan hal yang sama. Dari mulai Presidennya, pejabat-pejabat pemerintahan dari yang elit sampai tingkat paling bawah, para penegak hukumnya, juga mereka yang terus ngotot pada yang ia anggap benar, padahal keliru. Dan menurut saya, jika "nyepi" ini dilakukan secara nasional atau bisa diwajibkan dengan hukum undang-undang, seminggu sekali saja, maka kedewasaan berfikir dan ego akan berkurang. Setidaknya kita tau, semua tahu bahwa diri sendiri masih banyak yang perlu diperbaiki.

Kenapa harus seperti itu? saya kira Hari raya umat Hindu ini sangat unik, dimana agama-agama lain lebih memperlihatkan keramaian, kemegahan, dengan baju baru, senang-senang, makanan enak dll, mereka umat hindu malah menyepi. Itulah.. Sebenarnya yang ingin dicapai juga untuk kemaslahatan dan keharmonisasin manusia dengan sesama, alam dan Tuhannya.  Dalam hal ini, konsep Hindu yang disebut Trihitakarana, hampir sama persis dengan Islam. Itu tadi, terdiri dari tiga hal untuk mencapai kebaikan dan keseimbangan.

Itu dari sisi spiritualnya, kembali pada warga Jakarta, sisi keharmonisan sosial akan bisa dicapi. Mereka yang kebanyakan berlalu lalang di Ibu Kota ini, sadar bahwa lebih dari 8 jam sehari, hidupnya diabdikan untuk apa yang disebut "uang". Jika angan-angan saya ini bisa terjadi, wah..mata dunia akan tertuju ke sini. Satu-satunya kota tersibut di dunia (Jakarta), "mati suri" dalam sehari.

Sunday, March 10, 2013

Gus Dur, Pram, Politik Mutakhir? setidaknya Kejenuhan Terobati

Sejenak melupakan tugas hidup sehari-hari (nyuci, masak, dll.). sejenak Ngadem dari panasnya Jakarat-Tangerang. Sejenak mengobati kegundahan jiwa dan Sejenak melawan nafsu ketagihan nonton video-video youtube. Ku ambil empat buku dengan tidak terlalu serius, yang penting menarik dan tak harus nyambung.
Buku pertama dan kedua tentang tokoh besar Indoensia yang sering membuat orang menjadi gila, Gus Dur.

Buku yang berjudul "gila gus dur" ini, berisi tulisan-tulisan para cendikiawan dan politikus, seperti Romo Magnis Suseno, Syafi'i Ma'arif, Greg Barton dan Muhammad As Hikam (mantan menteri riset dan teknologi era gus dur). Rata-rata mereka memaparkan ke-kontroversial-an gus dur berdasarkan sudut pandang masing-masing. Syafi'i Ma'arif dan Muhammad Najib mengatakan, Gus Dur memiliki tiga wajah yang menonjol: sebagai tokoh agama, budayawan dan politisi. ketika berada di tengah komunitas NU, dia berperan sebagai ulama (Kyai). Ketika berada di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dia berperan sebagai budayawan, tetapi ketika bertemu dengan Megawati, B.J. Habibie, Wiranto, maka saat itu Gus Dur dapat dikatakan  sedang memainkan peran Politisi. (Gila Gus Dur, wacana membaca Abdurrahman Wahid, 2010, hal. 1)

Berbeda dengan buku pertama, buku yang diterbitkan tempo ini berisi kumpulan kolom gus dur di TEMPO yang dibukukan ketika Gus Dur naik sebagai Presiden RI.Seperti judulnya, "Melawan Melalui Lelucon" isi tulisan-tulisannya lebih segar, reflektif dan up to date. Melalui tulisan-tulisan ini Gus Dur memperkenalkan kehidupan Kyai dan tradisi pesantren, tentunya dalam berbagai pendekatan yang dikuasai. Bahkan tentang ini, Ulil Abshar menganggap tulisannya paling baik, paling mengandung passion. (hal. xviii). Jika dihubungkan dengan buku pertama, di sini anda akan menemukan penegasan langsung akan keluasan wawasan Gus Dur, dari pendekatan dan berbagai tema yang disajikannya.

Lain halnya dengan dua buku di atas, dua buku yang saya ambil selanjutnya adalah buku sastra, lebih tepatnya novel dan Politik. Dengan citarasa khas bahasanya, novel dari Pramoedya Ananta Toer lagi-lagi mengkisahkan dan menjadikan perempuan sebagai tokoh utamanya. Perempuan yang bergejolak jiwanya ingin kebebasan, menuntut keadilan, perempuan yang tangguh menghadapi hidup dunia yang tak berpihak padanya. Hal ini dapat ditemukan dalam beberapa novelnya, seperti "Bumi Manusia", seorang gadis (dikenal dengan Nyai Ontosoroh) yang hanya pasrah dikawinkan orang tuanya pada kompeni belanda. Tapi akhirnya, memiliki kecerdasan, kewibawaan dan ketegasan. "Gadis Pantai" yang juga diserahkan orang tuanya untuk sang penguasan (Bupati), tapi akhirnya dicampakan karena melahirkan anak perempuan. Dan kali ini Pram menghadirkan "Midah, si manis bergigi emas". Novel ringan ini menggambarkan seorang Midah yang hidup dalam keluarga yang taat beragama dan disayangi orangtuanya, tapi akhirnya tak terurus dan lebih kerasan hidup di jalan setelah adik-adiknya lahir.

Sekali lagi ceritanya, perempuan ini di jodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya dan setelah mengandung ia lari dari rumah karena mengerahui sang suami beristri banyak. Dalam fase pelarian inilah Pram menggambarkan perempuan yang begitu kuat. lewar novel ini Pram memperlihatkan ketegangan jiwa seorang humanis dan moralis. Inilah sisi lain dari novel ini, Pram juga memperlihatkan kebusukan kaum moralis - lewat tokoh Hadji Trebus (suami Midah) dan Hadji Abdul (ayahnya) yang hanya rajin dzikir tapi miskin citarasa kemanusiaan. Dan juga serakah. (hal. 7)

Buku terakhir yang saya sebut buku politik ini, lebih berjenis buku akademik referensial. Dimana buku ini juga berisi tulisan-tulisan seorang akademis ilmu politik. Diantaranya, Maurice Duverger, Roy C. Macridis, John G.  Grumm dan lain-lain. Buku yang berjudul "Teori-Teori Mutakhir Partai Politik" ini lahir tahun 1988, ketika kehidupan partai politik di negara kita pada dasawarsa belakangan surut. Partai (politik) tidak lagi menjadi panglima. Penekanan pembangunan nasional lebih pada aspek ekonomi, yang kemudian ada pergeseran relatif memberi bobot yang lebih pada sosial, tetapi belum membuka tirai "sekat politik" itu. Dan tentunya buku ini layak bagi mereka, mahasiswa ilmu politik dan kalangan umum yang getol mengikuti perkembangan partai politik. Ini sangat sesuai dan diperlukan jika ingin membaca fenomena partai politik yang semakin hari semakin komplek di negeri ini. Dari yang sebenarnya berfungsi sebagai jembatan aspirasi masyarakat sampai akhirnya ia (partai politik) menjadi alat untuk mencari kekuasaan da kekayaan pribadi. Hingga korupsi tak terbendung lagi.

Akhirnya, kejenuhan-kejenuhan setiap hari mulai tergantikan. Dari buku-buku tersebut, banyak informasi dan pengetahuan yang saya dapatkan. Jika serius dijadikan referensi untuk sebuah satu tulisan utuh, kira-kira saya akan dapatkan ide dengan tema tulisan "pandangan Gus Dur terhadap fenomena partai politik 4 tahun terakhir". Artinya, saya bisa menjadikan pandangan-pandangan Gus Dur yang menurut beberapa tokoh tidak ada teorinya atau tidak bisa didekati dengan suatu pandangan disiplin ilmu tertentu, sebagai pisau analisa untuk melihat fenomena partai politik sekarang ini. Tentunya dengan dihadapkan dengan teori-teori tokoh dari Barat dalam buku  yang disusun oleh Ichlasul Amal itu. Begitu juga bisa dibenturkan dengan tulisan Pram yang background novelnya tidak jauh-jauh dari sejarah dan kekuasaan (politik). Ini tentunya sangat menarik, mengingat pandangan Gus Dur yang lintas disiplin ilmu. Apalagi jika didekati secara comedic yang khas ala Gus Dur, mungkin akan ditertawakannya.

Menyetir tulisan Muhammad As Hikam, Gus Dur ibarat teks yang bebas ditafsirkan. Karena itu tidak mungkin pemahaman atas Gus Dur bisa dimonopoli penafsiran tunggal. Sekalipun menggunakan pendekatan posmo ala Michael Foucault yang menolak otoritas si pencipta (the author). Bahkan Gus Dur sendiri pada titik tertentu, tak lagi memonopoli pemahaman atas wacana dan kiprah yang dibuatnya sendiri. Apalagi saya, yang maish sangat minus atas pemahaman dan wawasan intelektual. Tapi, setidaknya kejenuhan terobati, sebagaimana niat awal menulis artikel ini.

Friday, December 21, 2012

Pesan persahabatan, cinta, mimpi dan nasionalisme dalam film “5 cm.”

By; Anwar mohammad
 
Persahabatan, cinta, impian, nasionalisme, itulah yang dapat dipetik pelajaran dari sebuah film dari Rizal Mantovani berjudul “5 cm”, yang disadur langsung dari novel karya Donny Dhirgantoro. Dalam kehidupan kita, seorang teman, sahabat merupakan bagian terpenting yang mewarnai perjuangan hidup ini. Semua orang, saya rasa tahu tentang arti persahabatan itu, waloupun tak semua merasakannya. Para pendahulu kita, orang tua misalnya, punya segudang cerita dan kenangan terkait hal yang satu ini. Dan bagaimana mereka menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, karena orang-orang yang dicintai selalu saling mendukung, memberi motivasi dalam perjalanan hidup ini...
Mungkin semua pengalaman tersebut dapat terwakili dalam kisah lima sahabat dalam film “5 cm”. Film ini bercerita tentang persahabatan 5 mahasiswa yang tetap awet sampai 10 tahun. Mereka antara lain Genta (Fedi Nuril), seorang jenius yang selalu membuat terobosan dlm mimpim-mimpinya, Ariel (Denny Sumargo), sahabat paling kekar yang tidak pernah ketinggalan “kecap”nya disetiap menu makanan, Riani (Raline syah), satu-satunya cewek dalam persahabatan ini, cantik, cerdas dan mimiliki kebiasaan “membajak” kuah mie temannya, Ian (Igor Saykoji), si gendut yang hobi banget maen game, makan mie, inilah yang membuat ia ketinggalan menyelesaikan kuliahnya, dan Zafran (Herjunot Ali)yang mengaku paling keren, seorang seniman yang gila dengan puisi dan syairnya. Yang menarik, usaha kerasnya mendekati cewek, Adinda (Pevita pearce) sebagai adek Ariel.
Genta sebagai leader memiliki ide untuk berpisah sementara selama 3 bulan, dan untuk merayakan reoninan pertemuan mereka kembali, petualangan dimulai. Mahameru sebagai puncak tertinggi gunung Semeru, puncak tertinggi pulau Jawa, menjadi tempat yang akan tak terlupakan sebagai petualangan mereka. Disinilah sebenarnya inti cerita film ini, yaitu persahabatan, cinta, mimpi dan Nasionalisme.
Semuanya terwakili dalam statment motivasi sebelum mereka memulai pendakian,
“kita perlu kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya (Genta), mata yang akan menatap lebih lama daripada biasanya (Ian), leher yang akan lebih sering melihat ke atas (Ariel), lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja (Riani), hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya (Zafran), serta mulut ayang akan selalu berdoa (Adinda).”
Ungkapan tersebut, dalam tackline lain diperkuat dengan,
“Setelah doa, maka disiplin yang akan membuat kita selamat”.
Wujud sikap persahabatan meraka semakin terasa dalam setiap detik pendakian menuju Mahameru. Beratnya medan dan minimnya pengalaman mereka, sangat membutuhkan sikap yang sebenarnya dari sebuah persahabatan. Mereka dituntut untuk tidak gengsi jika tak kuat melangkah lagi, dan sahabat yang lainnya akan mendekat, menolong, memeluk, seperti ketika Ariel merasa kedinginan yang hebat bagai tertusuk jarum.  Seperti ketika Zafran kakinya terluka, semua terluka, Ian yang hampir mati terkena benturan runtuhan batu, semua terluka dan hampir putus asa.
Genta menyerahkan estafet leader kepada Zafran, untuk mencapai Mahameru. Dan Zafran mulai berorasi motivasi semangat dan puitis, “taruh puncak itu, dan kita semua di sini”, biarkan mimpi itu menggantung, sambil meletak jari telunjuk di depan kening dengan jarak 5 cm. Mimpi mencapai Mahameru semakin dekat, dan luar biasa bahagianya mencapai puncak gunung Semeru, Mahameru. Mencapai puncak sebagai simbol impian-impian mereka. Puncak dimana mereka sadar akan kekayaan negeri, Indonesia, dan memacu untuk menjaga dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Puncak dimana mereka terkesima melihat “lukisan alam”, mereka merasa kecil dan bersyukur oleh ciptaan sang Pencipta yang Agung.
Tepat tanggal 17 Agustus, seperti di sebagian besar puncak gunung di Indonesia sering diadakan upacara bendera untuk memperingati hari kemerdekaan, mereka berikrar dan bersumpah sebagai anak negeri dan bangsa Indonesia. Sebagaimana ikrar semangat nasionalisme ala Ian;
“Saya Ian, saya bangga bisa berada di sini bersama kalian semua... Saya akan mencintai tanah ini seumur hidup saya,... saya akan menjaganya dengan apapun yang saya punya, saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya sendiri... Seperti saya akan selalu menjaga mimpi-mimpi saya terus hidup bersama tanah air tercinta ini...... ...yang berani nyela' Indonesia... ribut sama gue..!”
Mereka sadar bahwa mereka lahir dan besar makan dari tanah Indonesia, minum dari air Indonesia, hidup dari kekayaan alam Indonesia. Hingga akhirnya, Ian sadar dan membatalkan rencananya ingin meneruskan studi di Manchester, England dan memutuskan melanjutkan hidup bersama Indoensia.
Dan sebenarnya, “perjalanan menuju Mahameru adalah perjalanan hati”, keyakinan yang kuat dan memandu menapaki hidup yang indah ini.
Refleksi
Ditengah derasnya produksi film horor-esekesek di industri perfileman Indonesia, seperti film-film yang bertema nasionalisme, sejarah dan kearifan lokal,“5 cm” juga ikut andil dalam membasmi sisa-sisa kejayaan film-film horor indonesia dan kemegahan film-film Barat. Syuting yang dilakukan di ketinggian 3.676 m dpl (di atas permukaan laut), di puncak yang mendapat julukan Langit Pulau Jawa, adalah pertama kali dalam film Indoensia. Dan yang jelas, film adalah salah satu film bertama nasionalisme lain yang akan menambah rasa cinta pada negeri ini.
Unsur drama cinta segi empat oleh Genta, Riani, Zafran, Adinda dan unsur comedy membuat cerita film ini romantis dan menghibur, meledakkan tawa penonton.  Cinta yang bersemi antar sahabat itu, berhasil membuat penasaran dan memunculkan ending yang tak terduga. Hal yang membuat lucu adalah gabungan unsur romantic-comedic, seperti strategi-strategi Juplek atau Zafran dalam mendapatkan cinta adinda, tapi malah ditanggapi kaku dan lugu. Hingga munculnya Happy Salma, yang semula ada pada poster dan khayalan-khayalan Ian, menjadi kenyataan di akhir cerita, ini sangat membuat geli (memang akhir-akhir ini Happy Salam sering menjadi bintang tamu dalam film-film bagus Indonesia).
Dan saya memahami, itu merupakan jawaban tentang benar tidaknya mitos. Dimana di lereng yang disebut “tanjakan cinta”, orang yang ketika mendaki terus memikirkan orang yang dicintai, maka akan menjadi jodoh. Itu mitosnya, bisa benar bisa salah. Jawaban itu dikemas ketika Juplek memang tidak berjodoh dengan adinda, dan malah si gendut Ian yang terwujud mimpinya menikahi Happy Salma, punya anak lagi,, aduh,, sekali lagi geli.
Tapi itulah comedy-nya, dari awal cerita unsur ini memang bigitu lekat. Dari kebiasan masing-masing sahabat, perjuangan Ian menyelesaikan skripsi, hingga adekan paling tegang pun akhirnya menjadi comedyc. Uh,,, sang sutradara memang begitu cerdas membawa emasi para penontonnya.
Saya sendiri merefleksikan diri sebagai salah satu 5 sahabat tersebut, seperti dalam kehidupan nyata. Dimana saya merasa selalu jadi Ian yang banyak membutuhkan uluran tangan sahabat  lainnya. Banyak membutuhkan semangat, karena ketidak percayaan diri. Memang benar, sahabat itu bagai satu jiwa, satu badan. Jika satu sakit, sakit semua, satu jatuh, jatuh semua.
Tentang kepercayaan diri, ini yang sebenarnya menjadi ruh dalam mencapai mimpi. Dengan menyatukan semua indra ditambah doa dan kedisiplinan, selanjut terserah Tuhan. Maka mimpi itu semakin dekat.
Donny memang luar bisa sebagai pencipta cerita, begitu juga Rizal yang sukses mengarahkan para pemain. Tapi yang menjadi catatan di sini, film yang mirip dengan road-movie ini, jika kita membaca novelnya terlebih dahulu, maka akan merasa terputus-putus ceritanya. Dan akan kecewa dengan kurang lamanya perjuangan pendakian. Terkesan ingin cepat sampai. Maka saya sarannya tonton filmnya dulu, jika memang hobi nonton dan suka membaca novel.
Secara keseluruhan, patut diacungi dua jempol karya Rizal Mantovani ini..

Monday, February 14, 2011

Menelusuri Makna Surga Dalam Islam

Oleh: Mohammad Anwar
Berbincang surga dan neraka, sering dikaitkan pada apa yang disebut dalam al-Qur’an sebagai tempat yang dijanjikan Allah kepada makhluknya yang beramal shaleh.  Dan ketika ada pertanyaan seperti apa surga dan neraka itu? Dimana tempatnya? Tentu akal tida dapat menjangkaunya. Kebanyakan orang menjawab bahwa itu merupakan kepercayaan dalam agama (Islam) dan yang berkaitan dengan kepercayaan tidak untuk diperdebatkan atau didiskusikan. Yang penting diimani, titik! Pembelaan diri menjawab: akal kita terbatas, kita tidak bisa menjangkau yang ghoib-ghoib, percaya saja biar tidak jadi kafir! Atau bahkan murtad.

Pernyataan-pernyataan awam tersebut, menunjukkan adanya ketakutan untuk menjelaskan surga dan neraka yang jelas ditertera dalam Qur’an, kecuali sebatas apa yang disebutkan Qur’an. Lebih dari itu, apa yang disebutkan al-Qur’an tentang Surga Neraka terkesan tidak bisa dirasionalkan atau dipahami secara jelas. seperti apa maksud al-Qur’an. 

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengeksplor apa yang dimaksud surga dan neraka itu. Dan tulisan ini juga, lebih fokus pada pembahasan “surga”, walaupun juga mengungkap sekilas tentang “neraka” sebagai lawan atau istilah yang sering disandingkan. Tentunya dengan mengkaji berbagai pendapat yang nantinya tak lepas dari yang dimaksudkan Qur’an. Salah satunya, pandangan Mulla Sadra. Apakah Surga neraka itu benar-benar seperti tempat yang indah? Dimana bersifat material atau mungkin bersifat immaterial.

Pemahaman atas Surga

Sebenarnya “surga, neraka” merupakan terjemahan dari kata jannah dan nar dalam al-Qur’an yang dianggap paling tepat, oleh para penerjemah tentunya. Kata “surga” sendiri berasal dari  kata sanskerta, suarga, dari suku kata suar dan ga. Suar artinya cahaya, dan ga artinya perjalanan.[1] Dengan demikian, pada mulanya surga berarti perjalanan ke dunia cahaya. Pengertian ini terdapat dalam ajaran Hindu-Budha. Bagaimana dalam ajaran Islam?

Dalam al-Qur’an (Islam), konsep surga dimaksudkan terjemahan dari kata bahasa arab, jannah - jamak dari Jinan - yang berarti “kebun, taman”. Ia adalah tempat yang kekal di akhirat dan diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah Swt yang beriman dan beramal shaleh, tempat yang memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan ketika hidup di dunia dan sebagai balasan jerih payah memenuhi perintah dan menjauhi larangannya.[2]

Dari arti “kebun” itu, tampaknya sangat sesuai ketika Al-Qur’an melukiskan Al-Jannah (surga) sebagai sebuah tempat yang indah, dipenuhi pohonn-pohon rindang, sungai yang airnya mengalir jernih dan segala keindahan lainnya. Hal tersebut dimaksudkan dan juga sejumlah penafsir menggarisbawahi bahwa keadaan di surga, begitu indah dan nikmatnya sampai tidak terbayangkan oleh manusia.

Di dalamnya terdapat segala sesuatu yang memikat dan menyenangkan hati serta pandangan, di dalamnya terdapat segala sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terpikirkan oleh akal pikiran. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata'aala berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ  

Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As Sajdah: 17).

Sebagaimana diungkap di atas, surga dan neraka merupakan kelanjutan alami dari perbuatan baik dan jahat manusia. Secara logis manusia memerlukan keduanya sebagai balasan amal mereka. Jika beramal sholeh balasannya adalah surga dan sebaliknya neraka adalah buat orang kafir dan ingkar terhadap ayat-ayatnya. Ini lebih menjelaskan lagi bahwa surga merupakan tempat yang bagus dan sebaliknya dengan neraka.

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (107) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا (108)‏

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” (Al Kahfi: 107-108).
  
 Bentuk Surga

Mengenai bentuk surga, pandangan dari Islam masih banyak perbedaan. Apakah surga itu merupakan sesuatu yang baru atau bersifat kekal? Ataukah surga itu merupakan bentuk spiritual atau bersifat materi/fisik seperti yang dirasakan di dunia ini? Atau seperti apa?

Secara umum, sebagaian ulama menyatakan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan ruh, bukan kehidupan jasmani. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa bentuk surga dan neraka bersifat spiritual dan intelektual. Selanjutnya mereka mengatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an dan butir-butir hadits yang menginformasikan tentang makanan surga, minuman surga, pohon surga, sungai surga, tidak menunjuk dan mengacu pada makna yang sebenarnya.[3]
 
Lebih dari itu, kenikmatan surga dalam al-Qur’an hanya bersifat spiritual dan merupakan kias dari kenikmatan yang besar. Meminjam istilah Taufik, kenikmatan yang bersifat psiko-spiritual akan lebih nyata dan terasa dibandingkan kenikmatan yang bersifat fisik belaka.

Pandangan yang lain tentang bentuk surga, datang dari yang berpendapat bahwa kehidupan akhirat itu bersifat materi. Alasan yang diajukan tentunya kembali pada al-Qur’an dan Hadits yang memang menginformasikan apa adanya (tekstual).  Otomatis mereka yang menganggap demikian, memahami apa yang ada  dan disebutkan Qur’an tentang makanan dan minuman atau tempat lainnya bersifat materi. Pendapat ini diwakili oleh Al-Asy’ary yang Jabariyah.

Selain dua pendapat umum di atas, juga banyak pendapat lain yang berbeda, sebut saja para filosof yang argumentatif. Mengenai perdebatan bentuk dan hakikat surga, akan penulis coba jelaskan bab selanjutnya yang dianggap cukup mewakili.

Surga Menurut Ahlu Sunnah

Ahlus Sunnah wal Jamah meyakini bahwa Surga dan Neraka adalah makhluk Allah. Surga disediakan untuk orang-orang yang bertakwa lagi Mukmin. Sedangkan Neraka disediakan untuk orang-orang kafir. Sebagaimana tercantum dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Al Imam Al Hasan bin Ahmad Al ‘Athar Al Hamadzani dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abi Hatim berkata :
Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah radhiallahu 'anhuma tentang madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dan mereka peroleh dari ulama di seluruh negeri.” Kemudian beliau menyebutkan secara global akidah keduanya dan berkata : “Surga dan Neraka itu benar, keduanya adalah makhluk, keduanya tidak akan binasa. Surga sebagai balasan untuk wali-wali-Nya dan Neraka sebagai hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya, kecuali orang yang dirahmati.” (Dzikrul I’tiqad wa Dzammul Ikhtilaf, hlm: 910. Dikutip dari Ibnu Zamain tahqiq Abdullah Al Bukhari, Riyadlul Jannah bi Takhrij Ushulis Sunnah, hlm: 134).

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Surga dan Neraka sudah ada sekarang meskipun golongan Mu’tazilah menentang permasalahan ini. Abul Hasan Al Asy’ari mengatakan bahwa telah terjadi perselisihan tentang Surga dan Neraka, apakah keduanya telah diciptakan atau belum. Maka Ahlus Sunnah meyakini bahwa keduanya telah diciptakan. Sedangkan mayoritas ahlul bid’ah menyatakan bahwa keduanya belum diciptakan. (Maqalat Al Islamiyyah, 2/168)[4].

Ibnu Abil ‘Izzi menyatakan : “Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa Surga dan Neraka adalah makhluk dan sudah ada sekarang. Ahlus Sunnah terus menerus dalam keadaan seperti itu.” Seorang Imam Ahus Sunnah wal Jamaah di masanya, yaitu Imam Abu Muhammad Al Hasan bin Ali Al Barbahari (wafat 329 H) menyatakan dalam Syarhus Sunnah : “Kita mengimani bahwa Surga dan Neraka adalah benar adanya, keduanya adalah makhluk. Surga berada di langit yang ketujuh dan atapnya adalah Arsy. Neraka di bawah bumi yang ketujuh. Keduanya telah diciptakan. Allah Maha Mengetahui tentang jumlah penduduk Surga dan orang yang masuk ke dalamnya dan jumlah penduduk Neraka. Keduanya tidak hancur dan akan kekal bersama Allah selama-lamanya.” (Syarhus Sunnah. Al Barbahari. Tahqiq Ar Radadi:  74).[5]

Imam Abu Bakr Muhammad bin Al Husain Al Ajurri (wafat 360 H) mengatakan dalam kitabnya Asy Syari’ah : “Ketahuilah - semoga Allah merahmati kita semua - sesungguhnya Al Qur’an bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan Surga dan Neraka sebelum menciptakan Adam as. dan telah menciptakan bagi Surga penghuninya dan bagi Neraka demikian juga sebelum Dia menciptakan mereka ke dunia. Orang-orang yang dilingkupi Islam dan merasakan manisnya iman tidak berselisih dalam hal ini. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah, maka kita berlindung kepada Allah terhadap orang yang mendustakan hal ini.” (Asy Syari’ah. Al Ajurri : 345. dikutip dari Ta’liq Abdul Hamid Faqi).[6]

Sedangkan kaum Mu’tazilah dengan Qadariyahnya mengingkarinya dan mengatakan bahwa Allah menciptakan Surga dan Neraka nanti di hari kiamat. Mereka menyatakan bahwa apabila Surga diciptakan sebelum hari pembalasan, maka hal ini adalah perbuatan yang sia-sia karena Surga akan kosong dalam waktu yang lama. Mereka pun menolak dalil-dalil yang membantah pemahaman mereka. Ini sesuai dengan pemikirannya yang cenderung aqliyah atau yang berdasarkan akal manusia.

Jika melihat dengan detail semua keterangan yang dikutip di atas, orang-orang ahlusunnah masih menguraikan apakah surga itu sudah dicipta atau belum. Belum secara detail bagaimana bentuk surga dan bagaimana terciptanya. Disini hemat penulis - selain memang ini merupakan penjelasan dari kalangan teolog - pendapat tersebut memang sesuai dengan dogma ahlussunnah bahwa kita hanya wajib mempercayai apa yang disampai dalam Qur’an. Mereka memahami Qur’an secara tektual apa adanya. 

Karena itu wajar bahwa mereka melihat surga dan neraka seperti apa yang dijelaskan tekstual dalam Qur’an. Tidak menggunakan dalil rasional sebagaimana Mu’tazilah. Walaupun Mu’tazilah juga masih berkutat pada pembahasan sudah diciptanya surga atau belum. Untuk mengatasi kekurang jelasan pendapat dari kelompok teolog, mungkin tepat jika beranjak menuju uraian yang lebih bersifat filosofis. Tentunya filsafat Islam menjadi orientasinya, yang juga tidak mengabaikan sumber wahyu. Dengan demikian penjelasan dari Mulla Sadra menjadi pilihan penulis terkait tentang makna surga.

Hakikat Surga Menurut Mulla Sadra

Mulla Sadra, seperti dalam pemikiran eskatologi sebelumnya selalu mendasarkan argumennya pada telaah rasional. Selainnya juga dari teks wahyu dan ucapan para imama. Walaupun argumentasinya mandek pada akhir gerakan subtansial. Seperti pada umumnya, dalam melihat surga, Mulla Sadra menggambarkan sebagai sifat yang menunjukkan tempat keabadian dan keselamatan yang tidak ada kematian, kelemahan, sakit, derita, kesulitan, kehilangan maupun kelenyapan.

Jelasnya, Sadra menegaskan bahwa apa yang ada di surga semuanya bersifat intelek dan sama saja tidak ada materi, gerak, sebab aktivitas, pembaharuan dan perpindahan karena wujud di surga tiada lain adalah wujud formatif.[7] Hal ini tampaknya argumentasi rasional tidak menyeluruh masuk dalam penjelasan hakikat surga. Tapi pendekatan mukasyafah dan nash tampaknya lebih dominan. Walaupun dia juga mengatakan surga sesuai dengan tingkat kecenderungan jiwa masing-masing penghuninya.

Untuk membaca lebih detail lagi hakikat surga Sadra, kiranya perlu diketahui bahwa Sadra membagi Surga kedalam dua kategori, yaitu Surga Indrawi dan Surga Intelek. Surga Indrawi adalah surga yang berisikan beragam forma tanpa materi dan dapat dipersepsikan secara indrawi dan dapat mengalami perubahan. Sedangkan surga intelektif berisikan forma-forma intelek (akliah) dan imajinal bercahaya[8]. Kedua kategori ini memperlihatkan pembagian dari kwalitasnya, kualitas jiwa. Dan penghuninya akan merasakan berdasarkan kwalitas jiwanya.

Pembagian di atas seperti diungkapkan Khalid, berdasarkan QS 55: 46, yang berarti “dan bagi yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga”. Dari sini juga Sadra membagi kelompok yang masuk dalam kategori tersebut, yaitu kelompok kanan dan kelompok orang-orang yang dekat dan punya kedudukan sangat tinggi. Artinya,  surga neraka merupakan sebuah produk dari amal atau kwalitas jiwa manusia itu sendiri. Jika amal seseorang terus dilakukan dengan niat karena hanya untuk diri-Nya, maka jiwanya akan menjadi suci dan terjaga.  Apabila jiwanya selalu dalam kedaan suci, maka dia akan selalu dekat dengan Tuhannya.

 Kesimpulan

Berdasarkan semua penulusuran tentang surga diatas, kesimpulan sementara penulis akan sedikit meresume. Bahwa benar, surga ( dan neraka) merupakan tempat yang telah dijanjikan Allah untuk orang-orang yang selalu menghamba (beramal soleh) pada-Nya. Begitu juga neraka untuk orang-orang  yang membandel (tidak mengikuti firman-Nya) pada-Nya. Oleh karena itu, keduanya (surga dan neraka) niscaya ada dan wajib diimani oleh semua makhluqnya. Tapi penulis juga mungkin mendapat kesimpulan yang lebih setelah konsep (makna) surga bisa ditelusuri lagi (dalam space yang terbatas).

Jika lagi-lagi ingin mengacu pada filosof, seperti Ibnu Shina: maka sebelum membahas surga ia menawarkan bahwa harus dipahami dulu apakah ma’ad (kebangkitan) itu jasmani atau ruhani dan apa buktinya. Misalnya ma’ad itu sesuatu yang bersifat ruhani, maka surga juga ruhani. Begitu pun sebaliknya. Sebagian filosof menganggap surga bersifat ruhani. Walaupun teks (wahyu; Qur’an) menggambarkan secara jasmani, tapi apa yang disampaikan teks perlu ditakwilkan. Artinya, mereka menganggap bahwa ada makna yang “dalam” dibalik penggambaran teks tersebut. 

Mendapat inspirasi dari tawaran Ibnu Sina, kembali pada pembahasan “wujud” menurut penulis menjadi solusi yang cukup penting. Karena pertama, semua muslim menyetujui dan meyakini bahwa Surga itu ada. Masalahnya hanya, bagaimana adanya dan meng-adanya. Ini juga tidak terlepas dari penjelasan irfan teori tentang wahdatul wujud. Bahwa semua yang ada adalah “satu” yaitu diri-Nya. Pluralitas ciptaan ini hanya sebuah cerminan atau manivetasi-Nya. Termasuk manusia sebagai ruh-Nya.

Ruh manusia bergerak terus menuju penyempurnaan. Dalam istilah Sadra, “gerak subtansi” (sebagian filosof menentang). Ruh atau jiwa ini berasal dari_Nya, ketika jiwa ini keluar atau lepas, nantinya pasti rindu ingin kembali, kembali ke asal muasalnya. Bagaikan rindu akan kampung halangamannya. Tentu kembalinya melalui proses tingkatan alam. Dari alam lahut – jabarut – malakut -  nashut, dan kembali ke lahut dengan prosesnya masing-masing. Innalillahiwainnaillaihirojiun.. proses (penyempurnaan) menuju jabarut ke lahut, ada pembakaran (inilah yang dapat diartikan sebagai nerakanya) sampai tidak ada tanda-tanda nabut yang masih melekat dalam diri.

Penyempurnaan itulah yang nantinya akan mendapatkan surganya masing-masing. Berdasrkan kualitas amal setiap orang. Dengan kata lain, surga merupakan hasil dari masing-masing amal manusia. Berupa kenikmatan yang tak tergambarkan oleh akal, kecuali kita bisa “merasa” langusng pada objek. Jadi tidak heran jika surga tersebut terbatasi dengan makna harfiah (penjelasan teks) dalam qur’an.

Oleh karena itu, kesimpulan akhir tulisan ini adalah jelas masing banyak perbedaan dalam memahami makna surga. Karena memang semua kalangan (teolog-filosof-sufi) mempunyai pendekatan yang berbeda untuk melihat itu. Makanya, penulis dalam hal ini lebih cenderung ke pemahaman dari irfan dengan penjelasan filsafat. Artinya, walaupun totalitas pemahaman akan surga sulit dicapai, setidaknya dapat dipahami secara sederhana dengan pendekan rasional.

Agar tidak terjadi pengertian bahwa surga neraka itu sebuah tempat dengan berbagai keindahnnya, sentuhan logis penting digunakan. Surga akan muncul dengan sendirinya sebagai konsekwensi perbuatan manusia. Semakian tinggi kwalitas amal yang dikerjakan semakin tinggi juga kwalitas surga yang dihasilkan. Seperti disebutkan surat al-Kahfi :108 diatas, bahwa firdaus sebagai simbol kwalitas surga yang tinggi. Bahkan karena ruh itu terus berjalan (penyempurnaan) dari sebelum kiamat, surga dan neraka dalam pengetian yang beda sudah menyertai amal manusia di dunia ini dan berproses dari sekarang menuju pada-Nya.

Sehingga akhirnya penulis setuju dengan apa yang disuguhkan dalam karyanya Achmad Chodjim, “Membangun Surga”.  Bahwa makna surga tidak melulu dinisbatkan pada sebuah tempat di akhirat nanti untuk orang-orang yang terpilih atau beramal shaleh. Tapi juga dimaknai semacam keindahan dan tenang didalamnya.

Ciputat, 23 Januari 2011
Penulis,


Daftar Pustaka

Kholid Al-Walid, Analisa Filosofis Terhadap Konsep Eskatologi Mulla Sadra. (skripsi)
Chodjim, Achmad. Membangun Surga, bagaimana hidup damai di bumi dan damai pula di akhirat. Jakarta : Serambi, 2005.
Abdul Mujieb, Syafi’ah, Ahmad Ismail. Ensiklopedi Tasawuf Imam Al-Ghazali. Jakarta: Hikmah, 2009.
Taufik, Ahmad. Negeri Akhirat, Konsep Eskatologi Nuruddin Ar-Raniri. Solo: Serangkai Pustakan Mandiri, 2003.
Ibnu Zamain tahqiq Abdullah Al Bukhari, Riyadlul Jannah bi Takhrij Ushulis Sunnah, di akses dari http://www.facebook.com/topic.php?uid=342976860796&topic=16328
Kajian masjid assalam sumberjo. Fiqih Kitab al wajiz fi fiqhis sunnati wal kitabil aziz dan Aqidah Syarakh utsulu tsalatsah. Di akses dari ­_______________


[1] Achmad Chodjim. Membangun Surga, bagaimana hidup damai di bumi dan damai pula di akhirat. Jakarta : Serambi, 2005. Hal. 12.
[2] Abdul Mujieb, Syafi’ah, Ahmad Ismail. Ensiklopedi Tasawuf Imam Al-Ghazali. Jakarta: Hikmah, 2009. Hlm.221.
[3] Ahmad Taufik. Negeri Akhirat, Konsep Eskatologi Nuruddin Ar-Raniri. Solo: Serangkai Pustakan Mandiri, 2003. Hlm.46.
[4] Kajian masjid assalam sumberjo. Fiqih Kitab al wajiz fi fiqhis sunnati wal kitabil aziz dan Aqidah Syarakh utsulu tsalatsah. http://www.facebook.com/topic.php?uid=342976860796&topic=16328.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Khalid al-Walid. Analisa Filosofis Terhadap Konsep Eskatologi Mulla Sadra. Hlm.230.
[8] Ibid.